Forum Diskusi Iklim: Awal Musim Hujan Mundur

Artikel Terkait

Awal musim hujan diperkirakan dimulai pada Oktober hingga November dan Desember 2019. Sementara puncak musim hujan diprakirakan pada Januari dan Februari 2020. Prakiraan tersebut terungkap pada Forum Diskusi Iklim (FDI) yang digelar pekan ini untuk membantu menyelamatkan pertanian dari bahaya banjir dan kekeringan.
Diskusi digelar di Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (Balitklimat) yang dibuka oleh Dr. Haris Syahbuddin, DEA selaku Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan mewakili Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian.
Menurut narasumber dari BMKG, Dr. Dodo Gunawan, awal musim hujan 2019/2020 tersebut mundur 1-3 dasarian dari normalnya disebagian besar wilayah Indonesia.
“Sifat hujan tahun ini juga diprakirakan normal,” ungkap Dodo.
Informasi itu menjadi dasar penyusunan rekomendasi teknis dan rekomendasi kebijakan. FDI tersebut digelar setelah pertemuan yang dilaksanakan BMKG yaitu National Climate Outlook Forum (NCOF) yang membahas perkembangan prediksi musim untuk MH 2019/2020.
Tim prediksi kerjasama antara Balitklimat, ITB, dan BMKG, Dr. Elza Surmaini menyampaikan kejadian hari tanpa hujan lebih dari 10 hari masih berpeluang tinggi di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi ,sebagian Maluku dan Papua pada bulan Agustus sampai Oktober.
Hasil pemantauan kekeringan padi oleh Ditlin Tanaman Pangan juga menunjukkan luas terkena kekeringan pada 2019 lebih tinggi dibanding 2018 sehingga Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi menunjukkan risiko kekeringan agronomis masih tinggi pada Agustus sampai Oktober 2019.
Menurut Elza, penanaman dan penyelamatan tanaman eksisiting perlu dilakukan dengan irigasi suplementer. Memasuki awal Musim hujan pada November memiliki risiko kekeringan agronomis relatif lebih rendah.
Sementara menurut peneliti dari Tim Analisis Kalender Tanam (KATAM) Terpadu Balitklimat, Dr. Yayan Apriyana, merekomendasikan potensi luas tanam padi pada MH 2019/2020 seluas 11.4 juta hektar. Awal tanam padi sawah direkomendasikan dominan pada Oktober di minggu ke-2 hingga ke-3.
Menurutnya, potensi luas tanam seluas 283 ribu hektar dengan awal tanam dominan pada Desember minggu ke-2 hingga minggu ke-3.
“Sedangkan potensi luas tanam dominan untuk kedelai di lahan sawah seluas 101 ribu hektar dengan awal tanam dominan pada September minggu ke-3 hingga Oktober minggu ke-1,” ujar Yayan.
Diskusi itu juga mengungkap data ramalan OPT yang diprakirakan serangan penggerek batang dan tikus (padi), penggerek batang, tikus dan ulat grayak (jagung) akan tinggi pada MH 2019/2020.
Hasil FDI tersebut diharapkan menjadi pertimbangan dalam penyusunan rekomendasi strategi adaptasi dan rekomendasi kebijakan menghadapi MH 2019/2020 untuk menekan kehilangan hasil produksi akibat bencana banjir, kekeringan, dan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) demi terwujudnya Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. (bs)

Artikel Terkait

COMMENTS